Kolase – Pernik Kehidupan

Posted On June 21, 2010

Filed under Uncategorized

Comments Dropped leave a response

Kolase - Pernik Kehidupan

Kolase

Kolase adalah sekumpulan potret yang disusun secara acak tapi menarik. Demikian pula Kolase yang sat…u ini, Kumcer unik ini berhasil memotret berbagai sisi kehidupan yang kita alami sehari-hari. Acak, menarik dan membacanya seperti mengurai kembali hari-hari yang pernah kita alami.

“Aku suka karya-karya perempuan. Suara perempuan adalah kekuatan yang feminin. Dan tentang cinta di dalam buku ini adalah sebagian dari suara-suara mereka…Lembut, sensitif, berani dan penuh semangat. Adakah yang lebih hebat dari perempuan yang bisa mengaspirasi segala daya yang mereka miliki?”
(Reni Erina – penulis, redaktur, editor STORY MAGAZINE dan penikmat cerpen & buku)

“Bagi gue, membaca itu penting. Apalagi baca cerpen sastra kayak KOLASE ini. Touching! Keren banget. Gue rekomendasiin elo buat beli…
(Rizky Hanggono – Bintang film, pekerja seni, Ungu Violet, Jomblo, Dealova dan berbagai FTV)

“Cinta telah kita miliki sejak kita lahir. Kadang cinta kita cari ke mana-mana, padahal cinta itu ada di dalam diri kita. buku ini bicara tentang cinta. Mengajak kita untuk kembali merasakan tentang cinta di sekeliling kita, bahwa kita saling mencintai. Selamat buat ‘Rumah Pena’, yang menjadikan pena sebagai alat perjuangan!”
(Gol A Gong – Majelis Penulis FLP Pusat)
Telah terbit, Kumpulan cerpen KOLASE, PERNIK KEHIDUPAN. sudah bisa dipesan…^_^

Pemesanan ke nomor: 085781193778, 085643376193, 085710167815, 08159494292

Serial Negeri di Ujung Pelangi: Petualangan Imam

5. Mencari Tanaman Obat

“Bangun!”
Arya menarik tanganku dengan keras. Aku tersentak bangkit dan berdiri sempoyongan. Setengah jiwaku masih terdampar entah dimana. Aku bersungut-sungut.
“Sudah siang. Kita harus berangkat sekarang juga!” katanya.
Aku menatap langit yang masih bertabur bintang. Mana siang? Matahari saja masih ngiler di tempat tidurnya.
“Heh. Malah bengong. Ayo…!” Arya menjitakku. Sepertinya ia keranjingan menyiksaku. Aku terpaksa mengekorinya menuju hutan yang lebat.
“Apa kita tidak pamitan dulu?” tanyaku.
“Tenang saja. Aku sudah menaruh setangkai bunga biru di jendela,” ujarnya enteng.
“Maksudnya?” Aku malah bingung.
“Loh masa begitu saja tidak mengerti?” Arya mengerutkan keningnya. “Artinya kita akan pergi sebentar. Itu kan sudah umum.”
“Umum dimana?”
“Ya di kahyangan lah!” katanya galak.
“Tapi ini bukan kahyangan. Di negeriku saja tidak ada aturan seperti itu,” ujarku ngotot.
“Masa….? Lalu kalau pamit kau kasih tanda apa?” Ia penasaran.
“Gampang! Aku bilang saja! Beres kan!” kataku geli.
“Ooo…!” Arya menepuk jidatnya sendiri.

Kami berjalan menerobos hutan yang semakin rapat. Semak yang berjejalan menyulitkan langkahku yang pendek. Berkali-kali ranting-ranting kecil menampar mukaku. Bulu-bulu biruku yang mulai kusayangi banyak yang rontok karenanya. Sementara Arya tenang-tenang saja berjalan di depanku. Sebentar saja aku sudah ngos-ngosan.
“Aku ca…pe!” keluhku.
Arya melotot.
“Aku kan tidak biasa berjalan,” kilahku. “Biasanya aku pakai papan awanku atau terbang menggunakan sayapku.”
“Ya sudah, pakai saja sayapmu!”
“Sayapku tidak bisa keluar!”
Arya menoleh sedikit tanpa menghentikan langkahnya. Lalu ia mengangguk-angguk cepat.
“Aku tahu. Itu karena bumi banyak energi negatifnya. Otakmu pasti sudah tercemar,” katanya.
Aku diam tak mengerti. Melihatku tak menanggapi Arya berkata lagi.
“Di negerimu, bagaimana caranya membuat sayapmu muncul?”
“Mmm…Sudah otomatis. Begitu aku ingin terbang, ia akan muncul sendiri,” kataku.
“Tepat! Di negerimu dan juga negeriku memiliki energi positif yang berlimpah sehingga apapun yang kita pikirkan akan langsung dicerna oleh otak dan diwujudkan. Sementara di sini, yang energi negatifnya dominan, otakmu dirancang untuk tidak mengabulkan permintaanmu. Itu sebabnya sayapmu tak muncul saat kau minta,” katanya panjang lebar.
“Lalu aku harus bagaimana supaya sayapku muncul?” tanyaku penuh semangat.
“Pikirkan dengan sungguh-sungguh apa yang kau inginkan. Paksa otakmu menurutimu!” katanya.
Aku mencoba memikirkan dengan sungguh-sungguh sepasang sayap mungilku. Beberapa saat kemudian setelah menghabiskan berliter-liter keringat aku berhasil memunculkan satu sayapku. Tentu saja aku belum bisa terbang. Hampir saja aku menyerah. Aku baru tahu berpikir ternyata menghabiskan banyak energi. Ketika matahari hampir berada di puncak kepalaku, sayapku tercinta akhirnya genap berjumlah dua. Dengan girang aku mengepak-ngepakannya. Badanku terlonjak naik lalu menabrak ranting pohon di depanku.
“Awwww…”
“Hahaha….Hati-hati bung!” Arya tertawa geli.
Aku manyun menahan kesal dan sakit di badanku. Tapi aku diam saja. Aku coba lagi. Kali ini lebih mulus meski aku mesti belajar mengerem dan berbelok. Lama-lama aku terbiasa juga dengan sayapku dan dapat terbang dengan tenang di samping Arya. Aneh, meski aku mempercepat tempo terbangku, Arya tetap bisa menjajariku. Padahal aku tidak melihatnya berlari. Arya menyadari keherananku. Ia tersenyum.
“Jangan heran. Saat kau memutuskan untuk terbang, aku juga memutuskan untuk melayang,” katanya. Sekarang aku bisa melihatnya. Ia memang tidak menggerakkan kakinya. Ia melayang di sampingku. Tanpa sayap. Aku jadi iri.

Serial Negeri di Ujung Pelangi: Petualangan Imam

4. Wangsit

Ni Alina masih melamun di pinggir danau ketika aku dan Arya si biang kerok tiba di hadapannya. Apa sih yang direnungkannya? Serius banget.
“Inilah Ni Alina sahabatku,” kataku. “Kamu kenapa?”
Arya, makhluk berbulu hitam itu sedang menatap Ni Alina dengan mulut ternganga lebar. Aku bahkan berani bersumpah kalau aku melihat air liurnya sampai menetes. Ih, jangan-jangan ia makhluk pemangsa yang berbahaya. Reflek aku memukul betis Ni Alina supaya ia bangun dari lamunannya. Berhasil. Ni Alina tersentak. Kaget karena pukulanku dan kaget karena ada makhluk hitam, jelek dan menijikkan di depan mukanya.
“Hiiii…gorilla!!” Ni Alina histeris.
“Tenang! Tenang!” Aku berusaha menenangkannya. “Dia tidak menggigit kok!”
Eh, padahal aku ga yakin lho. Tapi berhasil. Ni Alina kembali tenang. Sedetik kemudian dia melotot padaku. Sampai-sampai aku pikir mukaku berubah menjadi lebih jelek lagi.
“Biru…kok kamu bisa ngomong?”
“Eh Jadi kau bisa mengerti ucapanku?” Aku bersorak gembira.
“Ya iyalah! Cuma kok bisa sih?” Ni Alina sepertinya masih belum percaya. “Kok kemarin-kemarin kamu tidak bisa bicara?”
“Ceritanya panjang…”
“Tunggu!” Arya menyenggolku, kesal karena dia dicuekin. “Kenalin aku dulu dong!”
Aku menepuk dahiku. Aku benar-benar lupa sama si biang kerok. Aku memperkenalkannya dengan Ni Alina yang masih shock melihat binatang besar di hadapannya. Lalu aku menceritakan kisahku hingga terdampar di hutan ini.
“Hmmm…kasihan sekali kamu? Kamu pasti rindu sekali pada orang tuamu. Tapi aku percaya Tuhan pasti akan menolongmu.” Ni Alina memelukku dengan penuh sayang.

Malamnya Ni Alina membolehkan Arya untuk tidur di luar pondok. Sementara ia terlelap, diam-diam aku menghampiri Arya. Ia masih terjaga. Sambil bersandar di batang pohon besar, ia asyik memutar-mutar bola api di tangannya. Tempat itu menjadi sangat terang.
“Kau diajari ilmu seperti ini?” tanyanya tanpa menoleh. “Aku dengar makhluk Hyangan punya kekuatan sihir, meski tidak sebesar kekauatan kami tentunya.”
Aku mencibir sebal.
“Mungkin benar. Tapi kami semua tidak pernah sombong…”
“Hahaha…aku tidak bermaksud menyombong. Aku justru mau mengajarimu!”
“Oya! Baiklah. Ajari aku!” Aku segera duduk di sampingnya.
“Kau harus menguasainya dengan cepat. Karena setelah ini, kita harus segera menjelajahi hutan untuk mencari tanaman obat.” Arya menatapku serius.
“Untuk?” “Tentu saja untuk menyembuhkan penyakit kulit Ni Alina.”
“Oooo…” Aku mengangguk-angguk.
Semalaman Arya mengajari aku beberapa ilmu sihir dan ia puas karena kau cepat menguasainya. Aku gitu loh…

Suatu malam Arya mengajakku berdoa. Ia hendak mencari petunjuk untuk mewujudkan rencananya. Di bawah cahaya bulan malam itu, seekor gorila dan sesosok makhluk berwarna biru duduk bersisian dan mengheningkan cipta. Bulan sudah tergelincir ke barat. Kakiku mulai mati rasa. Sepertinya aku sudah hampir tertidur ketika tiba-tiba ada suara tanpa wujud terdengar.
“Arya, bangunlah. Aku akan memberimu petunjuk!”
“Siapa tuh?” tanyaku sedikit takut.
“Sssst itu suara ayahku.”
Suara ghaib itu terdengar lagi, “Untuk mendapatkan obat kulit yang diderita gadis itu, kau harus pergi ke arah matahari terbit. Setelah melewati tiga gunung, kau akan sampai di sebuah gurun dimana hanya tumbuh sebatang pohon dan hanya memiliki sekuntum bunga. Namanya bunga Talayu. Ambillah bunganya dan rendam di air mandi gadis itu, Insya Alloh ia akan sembuh.”
Setelah itu tidak ada suara lain lagi. Artinya ayahnya Arya sudah pergi. Aku menyenggolnya.
“Ngomong-ngomong apa aku harus ikut pergi juga?”
“Ya iya! Aku mengajarimu banyak ilmu, supaya kamu bisa membantuku!” Ia menjawab dengan agak galak.
Aku membayangkan tiga gunung yang harus kudaki dan kuturuni dengan kakiku yang pendek. Tanpa sayap di punggungku.
“Tapi…aku digendong kan?”
“Apaaa?”
Arya mengetuk kepalaku.

**

Serial Negeri di Ujung Pelangi: Petualangan Imam

3. Aku dan Si Biang Kerok

Pagi itu aku menemani Ni Alina melamun di pinggir danau. Rupanya hal ini adalah hobi Ni Alina. Ni Alina melamun dengan khusyuk, seolah-olah pikirannya begitu berat sehingga jiwanya tidak bersatu dengan raganya. Aku juga sedang berpikir serius, bagaimana caranya pulang ke Hyangan. Betapa rindunya aku pada Ibu, Ayah dan Auryn. Apakah mereka sedang kelelahan mencariku? Putus asa karena tidak menemukanku? Ibu pasti sedang menangis sekarang. Hhhh…apa mau dikata, kini aku tidak tahu kemana harus mencari jalan pulang.

Ah..Ni Alina masih tenggelam dalam lamunannya. Aku sudah bosan duduk di sini. Hmmm…Sebaiknya aku berkeliling saja sekitar danau. Mungkin ada sesuatu yang menarik.

Aku melangkah dengan hati-hati, takut membuyarkan lamunan Ni Alina. Udara begitu sejuk kalau pagi hari. Basah karena membawa air dari kabut yang mulai menghilang, hampir mirip dengan udara basah di Hyangan yang selalu bercampur air hujan. Aku tidak bisa lagi melihat bayangan Ni Alina, rupanya aku sudah berjalan cukup jauh. Oh lihat, di sekitar sini banyak sekali pohon buah! Rupanya di sinilah Ni Alina mengumpulkan makanannya. Buah-buahan itu banyak yang terjatuh dari pohonnya. Sayang sekali terbuang begitu saja. Lebih baik aku kumpulkan dan kubawa pulang. Ni Alina pasti senang.

Aku sibuk sekali mengumpulkan buah-buah yang jatuh, menumpuknya. Tapi bagaimana membawanya ya? Saat sedang asyik mengumpulkan buah-buah merah, sebuah suara mengejutkanku
“Hei! Berani sekali kamu mengambil buah-buahan milikku!” katanya.
Aku menoleh cepat, dan di hadapanku kini berdiri seekor makhluk aneh yang sangat besar dan berbulu hitam lebat. Tunggu! Aku ingat. Makhluk ini si biang kerok yang menyebabkanku terdampar di negeri ini.
“Wuik..wuik…!” aku mencoba bicara tapi lagi-lagi suara aneh itu yang keluar.
“Hmmm…sepertinya aku pernah melihatmu,” kata makhluk itu. “Aaah…kamu adalah makhluk Hyangan yang tanpa sengaja ikut jatuh bersamaku. Kenapa kau masih di sini? Pulang sana! Ibumu pasti sedang mencarimu.”
Pulang? Bagaimana caranya? Aku berusaha bertanya, tapi…hih aku benci sekali mendengar suara menguik dari mulutku.
“Oh kau kehilangan suaramu? Tubuhmu juga berubah ya? Rupanya sihirku mempengaruhimu!” kata makhluk berbulu itu. “Baiklah aku akan mengembalikan suaramu!”
Tiba-tiba makhluk itu menepuk punggungku dengan sangat keras hingga aku terbatuk-batuk.
“Aduuuhh…sakit tau..!” teriakku.
Hei. Aku bisa bicara lagi. Wah senangnya! Tapi, kenapa tubuhku tetap berbulu biru?
“Rupanya kau benar-benar terinfeksi sihirku. Kalau begitu, kau hanya bisa kembali ke wujud aslimu kalau aku juga berubah!” katanya kalem.
“Berubahlah sekarang! Aku benci dengan tubuh baruku yang aneh ini,” pintaku.
“Sayang sekali, tidak semudah itu nak,” katanya. “Sihirku itu hanya bisa berakhir jika aku telah menyelesaikan tugasku.”
“Tugas? Semacam PR begitu? Bagaimana kalau aku bantu biar cepat selesai,” kataku.
“Ya semacam itulah! Tapi tentunya tidak gampang. Aku harus menolong seorang perempuan,” katanya.
“Perempuan? Menolong? Maksudnya?” tanyaku bingung.
“Begini, sebenarnya aku adalah warga Kahyangan. Karena ibuku kesal melihatku selalu mengganggu wanita-wanita. Ia menyuruhku turun ke bumi dan tidak boleh pulang ke kahyangan sebelum misiku selesai yaitu menolong seorang wanita bumi. Sebelumnya, ibuku mendandaniku dengan wujud seperti ini, supaya wanita yang aku tolong tidak jatuh hati padaku,” katanya sedikit sombong.
“Hihihihi….mana ada makhluk yang suka sama makhluk menyeramkan seperti dia,” pikirku geli. “Sudah seperti raksasa, berbulu hitam lagi…luar biasa seram!”
“Hei! Kenapa mesem-mesem begitu? Tidak percaya kalau aku tampan? Lihat saja nanti kalau aku sudah menyelesaikan tugasku! Kau pasti terpesona!” ujarnya marah.
“Iya deh percaya!” kataku menahan tawa.
“O iya perkenalkan namaku Arya Kamasan,” kata makhluk berbulu hitam itu.
“Imam,” kataku.
“Nah Imam, kamu tahu dimana aku bisa menemukan wanita yang bisa aku tolong?” tanya Arya.
“Aku cuma tahu satu wanita di sini…” kataku.
“Dimana dia? Mungkin dia wanita yang dimaksud. Menurutmu, dia perlu ditolong ga?” tanya Arya.
“Entah ya. Yang kutahu hanya gadis ini kulitnya tidak bagus. Selebihnya sih kelihatannya tidak ada,” jawabku.
“Baiklah, perkenalkan aku padanya,” katanya setengah memaksa.

Aku tidak punya pilihan lain selain membawanya kepada Ni Alina. Meski aku tidak terlalu suka pada si biang kerok ini, tapi mungkin ia satu-satunya yang bisa membawaku pulang.

Serial Negeri di Ujung Pelangi: Petualangan Imam

2. Dimanakah Aku?

Aku terhempas dengan keras dia atas hamparan batu kerikil. Punggungku basah terkena cipratan air. Setelah kesadaranku mulai pulih, pelan-pelan aku bangkit dan mempelajari sekelilingku. Ada danau kecil yang terhampar di depanku. Tapi sepertinya danau ini berbeda dengan danau di negeriku. Airnya bening dan dingin. Pohon-pohon tinggi berdiri di sekelilingnya. Rupanya aku berada di sebuah hutan yang tidak terlalu rimbun karena dia masih bisa melihat matahari di sela-sela dedaunan. Aku tersentak, daun-daun dan bunga-bunga ini lembek, persis seperti yang aku temui di hutan Mandadita. Tapi aku tidak bisa menemukan Auryn dan tempat ini belum pernah kulihat sebelumnya. Aku memutuskan untuk terus berjalan, siapa tahu aku bisa menemukan petunjuk yang akan membawaku pulang.

Matahari sudah mulai beranjak naik di ufuk timur, pertanda hari mulai siang. Di seberang danau sesosok makhluk tampak sedang duduk merenung. Ia seorang perempuan. Wajahnya sangat cantik meskipun tidak mirip gadis-gadis Hyangan yang mungil. Badannya tinggi dan sangat ramping. Rambutnya hitam tergerai panjang menutupi kulitnya yang….tidak mulus. Ya! Kulitnya seperti terkena penyakit kulit yang parah. Berbintil-bintil merah dan bernanah. Aku memandangnya dengan iba.

Krosak!!! Tak sengaja aku menginjak sebuah ranting kering dan membuat gadis itu menoleh dan terperanjat. Aku juga terkejut, dan menyadari bahwa aku bisa dianggap sedang mengintip. Aku mencoba meminta maaf.
“Wuik..wuik..wuik!!!” Aku terkejut mendengar suara asing tersebut. Aku celingukan. Mungkin ada binatang di sekitar sini, pikirku. “Wuik..wuik..wuik!” Aku kembali terkejut, kini menyadari bahwa suara aneh itu keluar dari mulutku. Lebih terkejut lagi ketika aku juga menyadari bahwa tubuhku kini dipenuhi bulu lebat dan panjang berwarna biru muda hampir di sekujur tubuhku. “Oh, apa yang terjadi denganku?” pikirku.

Sementara gadis cantik tadi mendekatinya dan tersenyum mengulurkan tangannya.
“Aduhai makhluk yang tampan kemarilah. Jangan takut. Kemarilah!” katanya.
Aku tidak yakin kalau ajakan itu buatku. Tapi gadis itu terus mengulurkan tangannya, dan ketika aku mengulurkan tangan berbuluku, gadis itu menyambutnya.
“Nah, sekarang kau adalah temanku. Namaku Ni Alina, siapa namamu?” tanyanya.
“Imam!” kataku tapi yang keluar dari mulutku adalah bunyi wuik…wuik lagi.
“Hahaha..ya aku lupa, kau pasti tidak punya nama karena kau tidak bisa bicara,” kata Ni Alina sok tahu. “Baiklah mulai hari ini kau kupanggil Biru sesuai warna bulumu, bagaimana?”
Aku melotot tapi terpaksa mengangguk pasrah. Gadis itu tertawa.
“Oh luar biasa, kau bisa mengerti ucapanku?” tanyanya.
“Ya iyalah!” pikirku.
Ni Alina kembali tertawa.
“Lucu sekali…kamu bisa marah juga…menggemaskan! Kamu mau lihat wajahmu saat marah?” tanyanya.
Tanpa basa basi ia mengangkat tubuhku dan membawaku ke samping telaga. Airnya yang bening menampilkan bayangan benda di sekelilingnya.
“Tuh lihat, lucu kan???” katanya menunjuk permukaan danau.
“Hwiiiiik…” Aku terperanjat. “Itu pasti bukan aku,” pikirku. Jelas-jelas yang kulihat bukanlah aku yang tampan tapi seekor makhluk kecil berbulu biru dan buntet. Mataku bundar dan kaki tanganku pendek. Kalau makhluk itu bukan aku, pasti akan kubilang lucu. Tapi kalau makhluk itu adalah aku, sama sekali tidak lucu. Ini bencana. Dan aku takut. Bagaimana ayah ibuku mengenaliku kalau bentukku seperti ini. Tanpa terasa air mataku meleleh
“Hei…Kenapa kau menangis? Kau sedih karena terpisah dari orang tuamu?” tanyanya. “Oh jangan sedih Biru! Kan ada aku….Aku akan membantumu. Nanti kita akan cari orang tuamu. Aku tidak pernah melihat makhluk sepertimu, jadi pasti gampang menemukan mereka!”
Aku jadi tertawa. Dia pikir orang tuaku juga berwarna biru. Enak saja! Tapi aku senang menemukan seseorang yang memperhatikanku. Ketakutanku terhadap dunia yang asing ini jadi sedikit berkurang.

Ni Alina mengajak aku untuk tinggal di rumahnya atau lebih tepat gubuknya atau lebih tepat lagi gubuk pohon. Karena memang gubuknya di atas pohon. Tidak terlalu tinggi memang, tapi tetap saja di atas pohon. Ni Alina menaiki undak-undakan yang menghubungkan tanah dengan gubuknya, sementara aku lebih suka memanjatnya.

Gubuk itu kecil tapi rapi, karena memang tidak banyak barang di dalamnya. Tapi banyak sekali buah-buahan di sana, tersimpan rapi di salah satu sudut. Buah merah, buah kuning, buah yang bentuknya panjang, wah aku semakin yakin ia pasti tinggal di sekitar Mandadita.
“Kamu mau pisang Biru?” tanyanya sambil mengulurkan buah berwarna hijau dan panjang bentuknya.
Aku dengan senang menerima buah hijau itu, merabanya dengan jariku lalu meletakannya di lantai dan sekuat tenaga aku menginjaknya hingga berbunyi Splashh!
“Aduh Biru, kenapa kau menginjaknya?” tanya Ni Alina. “Apa kau tidak lapar? Atau kau tidak suka? Kalau begitu pilih sendiri buah apa yang kau mau.”
Aku memandangnya tak mengerti.
“Kenapa tidak boleh diinjak?” pikirku.
Aku memandang Ni Alina yang mengambil sebutir buah merah dan menggigitnya. Kelihatannya ia begitu menikmatinya.
Lalu ia mengambil buah hijau tadi yang apa tadi namanya…pisang? Mengupasnya dan menggigitnya juga. Aku jadi penasaran lalu menirunya. Buah itu rasanya enak. Sama enaknya dengan puding serbuk bunga di negeriku. Serbuk itu sangat susah didapat, karena ia hanya bisa diambil 1 tahun sekali saat bunga mulai mekar dan sebelum matahari membuatnya mengeras dan menjadi permata. Tapi makan atau tidak makan tidak ada bedanya, karena kita memang tidak memerlukannya. Tubuh kami didesain untuk bisa mengolah zat yang diperlukan tubuh hanya dengan menghirup udara. Jika ada yang kita makan pun seperti serbuk bunga tadi, hanya untuk variasi dan hiburan saja.
Tanpa terasa aku telah melahap habis setandan pisang hingga tinggal kulit dan tandannya saja.
“Ternyata boleh juga makanan asing ini,” pikirku.
“Ck ck ck…kamu kelaparan ya?” kata Ni Alina sambil tersenyum.

Sejak itu kami menjadi teman yang baik. Ni Alina orang yang baik hati. Namun aku tetap ingin pulang. Ayah, ibu Auryn, raja dan ratu pasti mencariku. Tapi aku bingung bagaimana caranya menanyakan arah jalan pulang sementara aku tidak bisa berbicara.

Adakah yang akan datang menolongku?

Serial Negeri di Ujung Pelangi: Petualangan Imam

1. Aku, Auryn, dan pohon besar

“Ibuuuuuuuu…..!” terdengar jeritan tangis dari halaman istana. Para dayang bergegas  menghampiri gadis kecil yang sedang terduduk di tanah di bawah ayunan emasnya. Baju putihnya kotor ternoda oleh tanah merah.

“Hhhh…pasti ulah dia lagi,” gerutu para dayang sambil memandangku.

Aku?  Kok aku yang disalahkan? Tadi kan dia hanya terpeleset dan jatuh. Yaaaahhh! Meskipun karena aku tidak sengaja menginjak ujung jubahnya. Kan, tidak sengaja.

Auryn adalah gadis yang sangat cantik. Bahkan meskipun kini usianya baru 6 tahun, kecantikannya sudah menjadi buah bibir di seluruh negeri. Selain itu ia juga sangat cerdik. Sayang, ia cengeng sekali. Dan ia sangat menyukaiku, hehehe… Buktinya ia selalu ikut kemana pun aku pergi. Menjengkelkan sih, tapi juga menguntungkan. Karena ia sering mmbuatku terbebas dari hukuman. Hah! Tapi jangan berpikir yang bukan-bukan dulu! Auryn itu adikku! Satu-satunya! Dan sebagai kakak, akulah yang harus menjaganya dan berhak menjahilinya.

Orang tua kami sangat terkenal, karena ia ilmuwan terhebat di negeri kami. Benda apapun bisa dibuatnya. Meskipun warga Hyangan semuanya punya kekuatan sihir namun benda-benda yang bisa meningkatkan sihir mereka tetap dicari. Dan ayahkulah yang paling ahli di bidang itu. Bahkan raja Sastramantra dan ratu Bianglala sangat menghormatinya. Karena raja dan ratu tidak memiliki anak, kamilah yang dianggapnya sebagai anak mereka.

Pagi ini aku mengajak Auryn ke hutan Mandadita. Aku ingin menunjukkan sesuatu. Sebuah pohon yang menurutku cuma ada satu-satunya di negeri ini. Pohonnya sangat tinggi dan sangat besar, daunnya lebat dan ada sulur-sulur yang menggantung dari dahan-dahannya. Buahnya kecil dan merah. Dan tidak seperti pohon di negriku yang semuanya berwarna cerah, pohon ini selain buahnya yang berwarna merah dan sebagian daunnya yang berwarna hijau, selebihnya berwarna coklat. Kusam sekali ya! Yang menarik, di tengah dahannya terdapat sebuah lubang yang besar dan gelap

Aku membawa tongkat sinarku. Tongkat itu sebenarnya adalah tongkat sihirku. Tapi  ayah menaruh bubuk bintang di dalamnya, sehingga ia akan menyala di dalam gelap tanpa perlu menggunakan sihirku. Aku juga membawa papan awanku, supaya sayapku bisa beristirahat. Aku lupa memberitahumu bahwa kami memiliki sayap kalau sedang terbang. Tapi sayap itu akan hilang sendiri kalau kami tidak sedang ingin terbang. Leluhur kami, dewa dan dewi di kahyangan tidak memiliki sayap. Tapi kami punya.

Sekarang kami siap berangkat. Aku mendesah saat Auryn menghampiriku dengan jubahnya yang melambai.

“Kenapa sih bajumu harus sepanjang itu?” tanyaku. “Nanti susah kalau harus berlari. Bisa-bisa aku menginjaknya lagi.”

“Aku suka begini,” katanya manyun. “Aku kelihatan cantik dan melindungiku dari gigitan rungut (Sejenis nyamuk besar di negeriku. Kalau digigit akan bentol hingga sebulan. Belum lagi kau akan meriang dan tidak akan sembuh sebelum minum ramuan khusus.).

Akhirnya kami pun berangkat. Aku menaiki papan awanku yang meluncur dengan tenang, sementara Auryn terbang di sampingku. Sebenarnya hutan Mandadita adalah hutan larangan. Menurut cerita banyak orang yang masuk ke dalamnya tidak pernah kembali. Tapi aku dan Auryn sering ke sana, meski tidak sampai masuk ke dalamnya, hanya di pinggir hutan saja. Suasana di sana berbeda dari tempat yang lainnya. Tidak lembab dan basah. Bunga-bunganya memiliki aroma yang menyegarkan. Mereka lunak dan tidak berkilau seperti bunga di tengah kota atau di hutan lainnya. Daunnya pun bisa diremas hingga hancur. Buahnya bisa diinjak hingga gepeng. Menyenangkan saat kita menginjaknya dan berbunyi…splash! Auryn pandai membuat kalung atau gelang dari buah-buah kecil dan bunga-bunga, sementara aku lebih suka mencari tahu seberapa keras setiap buah yang aku injak.

Kami sampai di pinggir hutan, lalu aku mengajak Auryn untuk masuk lebih ke dalam.

“Kamu lupa, kita tidak boleh pergi terlalu jauh? Bagaimana kalau kita tidak bisa kembali?” kata Auryn. Jelas terlihat ia mulai ketakutan.

“Jangan takut! Aku sudah masuk sekali, jadi aku hapal jalannya. Aku menandai jalannya dengan menghapal pohon-pohon yang kita lewati. Lagi pula tidak terlalu jauh,” kataku meyakinkan.

Auryn terpaksa mengikutiku. Rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya. Aku menyuruhnya untuk ikut menghapal pohon yang kami lewati.

“Pertama pohon berbunga merah ini adalah awal kita masuk, lalu 3 pohon berbuah merah, pohon tanpa buah, 2 pohon berbuah kuning, 2 pohon berbuah hijau dan lonjong, pohon berbuah coklat lalu pohon tanpa buah lagi sebanyak 3 pohon. Nah setelah ini semua pohonnya berdaun jarum, kita tinggal lurus saja dari sini. Hei apa yang kau lakukan?” tanyaku pada Auryn.

Auryn ternyata melepaskan semua hiasan di rambutnya, permata-permata kecil berwarna kuning. Ia menempelkannya di setiap pohon yang aku maksud. Hmm pintar juga, jadi ia tidak perlu menghapal pohonnya, hanya perlu mengikuti jejak permatanya saja.

Tidak berapa lama kami sampai di tempat pohon raksasa tersebut. Pohonnya sangat besar dan tinggi. Atau barangkali karena tubuh kami yang kecil. Kami mengitarinya dan menyimpulkan bahwa kalau ingin memeluk pohon itu, akan diperlukan 20 anak sebesar kami yang saling merentangkan tangan. Di tengahnya menganga sebuah lubang seperti gua yang gelap. Auryn bergidik ngeri, mungkin ia ingat cerita hantu yang diceritakan ibu. Sebaliknya aku penasaran untuk melihat ke dalamnya. Aku mengarahkan tongkat sinarku ke dalam lubang, namun sinarnya tidak mampu mengusir kepekatannya.

Aku memandang Auryn berharap ia mau ikut masuk ke dalam lubang itu.

“Jangan pernah berani masuk! Atau akan kulaporkan pada ayah!” ancamnya.

Aku mengelilingi pohon itu beberapa kali, sementara Auryn memandangku tidak sabar.

“Kakak! Ayo kita pulang! Pohon ini sama sekali tidak menarik. Aku merasa tidak enak, seperti ada seseorang yang sedang melihat kita,” katanya.

“Tunggu sebentar lagi! Aku ingin memetik beberapa buahnya untuk koleksi,” kataku.

Tiba-tiba kami dikejutkan dengan kedatangan sesosok makhluk berwarna hitam dan besar yang meluncur turun dari atas pohon. Binatang itu memandang kami seolah-olah kami makhluk yang aneh, padahal dia yang aneh. Mendadak ia menjerit dan melompat ke arahku. Aku dan Auryn menjerit kencang. Makhluk itu menubrukku. Aku bisa merasakan bulu-bulunya di hidungku. Aku berusaha meronta melepaskan diri, sementara Auryn menjerit-jerit putus asa. Tanpa sadar aku mundur ke dalam lubang pohon besar itu. Lalu aku tidak bisa merasakan tanah di bawahku dan aku pun terjatuh. Oh aku ingin sekali terbang! Tapi kenapa sayapku tidak mau muncul. Aku pun melayang di dalam lubang. Setelah itu aku tidak ingat apapun lagi.

Serial Negeri di Ujung Pelangi: Petualangan Imam

Posted On February 4, 2010

Filed under Dongeng Serial
Tags: , , , ,

Comments Dropped leave a response

Hai! Namaku Imam. Orang-orang memanggilku Imam si ceroboh. Sebenarnya aku tidak suka dengan panggilan itu. Huh, kedengarannya sangat menghakimi. Padahal aku tidak seceroboh itu lho. Aku hanya kadang-kadang saja tidak sengaja mendorong ayunan Auryn terlalu keras hingga ia terjatuh, salah sendiri kenapa ia tidak pegangan dengan erat. Atau tidak sengaja menepuk kepala Fasha dengan ranting bunga flamboyant hingga keningnya benjol, bukan salahku kan kalau tulang kepalanya sangat lunak. Atau tidak sengaja mencampur ramuan obat ketombe ayah, sehingga rambut pasiennya menjadi rontok setelah 2 kali keramas, salahnya juga meletakan ramuan obat di sembarang tempat. Jadi sebenarnya tidak mutlak salahku, jika banyak kejadian buruk terjadi di kota ini.

O ya aku akan sebutkan tempatku tinggal. Aku tinggal di sebuah negeri bernama Hyangan. Negeri kami sangat terkenal, terutama karena alamnya yang maha cantik. Tidak heran dong! Negeri kami sangat penuh warna, karena terletak di ujung pelangi. Dan negeri kami sangat susah dicari, karena negeri kami berpindah-pindah mengikuti perjalanan hujan. Kadang-kadang negeri kami berhenti di bawah negeri Kahyangan tempat nenek moyang kami para Dewa dan Dewi tinggal. Kadang-kadang kami berhenti di atas negeri Atlantis yang megah, tempat dewa Laut bersemayam. Banyak sekali negeri-negeri asing yang kita singgahi tanpa sengaja. Tapi para tetua kami sangat berhati-hati jika kami melintas di atas bumi yang hingga saat ini belum pernah kusinggahi, karena katanya, di sana tempat tinggal makhluk yang mengerikan. Mereka senang merusak dan mencuri. Bagaimana jika mereka menemukan negeri kami yang kaya raya dan bermaksud merebutnya? Hiii… seram.

Aku tidak bohong saat kubilang negeriku maha cantik dan kaya raya. Negeri kami tanahnya berwarna-warni, berbukit-bukit dan dihampari oleh berbagai jenis bunga dan tanaman yang beraneka warna. Bunga mawar yang semerah rubi, bunga melati yang seputih mutiara, bunga matahari yang sekuning emas juga daun-daunan yang sehijau jamrud. Seandainya kau bisa memetik salah satunya, maka kau akan tahu bahwa mawar yang semerah rubi memang benar rubi adanya. Dan daun yang kau petik adalah benar-benar jamrud berkualitas tinggi. Di hutan-hutan dan padang-padangnya, binatang-binatang dengan kualitas istimewa hidup dengan bebas. Kuda sembrani yang bulunya sehalus sutera, kupu-kupu bermata berlian, kijang emas hingga kerang yang meghasilkan mutiara sebesar telur ayam ada di sini. Indah bukan?

Huaaah…hari ini aku malas bercerita. Lagipula sudah saatnya untuk tidur, besok aku akan mengajakmu berkeliling dan berkenalan dengan teman-temanku, atau membantuku mencari negeri Bumi yang ingin kulihat. Aku penasaran seperti apa mereka? Tapi nanti saja berpikirnya. Saatnya memadamkan bola kristalku dan siap-siap bermimpi. Selamat tidur!!!

Hello world!

Posted On January 29, 2010

Filed under Uncategorized

Comments Dropped one response

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.